Kamis, 01 Oktober 2015

Harga Komoditas di Pasar Tradisional Kuningan Masih Tinggi

KUNINGAN (CT) – Harga sejumlah komoditas sembilan bahan pokok (sembako) di pasar tradisional Kabupaten Kuningan terpantau stabil. Namun untuk harga daging, seperti ayam potong dan sapi masih mahal, yakni bertengger diharga Rp. 35 ribu dan Rp. 120 ribu per kilogram.
Eman (45), pedagang sembako di Pasar Cilimus mengatakan, sebelum lebaran hingga saat ini harga sembako masih relatif stabil, kecuali harga ayam potong dan daging sapi yang masih tergolong mahal.
“Untuk bahan-bahan pokok seperti terigu masih seharga Rp. 6.000/ kilogram untuk yang jenis biasa dan Rp. 7.500/ kilogram untuk terigu segitiga, gula pasir dan gula merah masing-masing Rp. 12.000 dan Rp. 13.500 per kilogram, dan untuk harga telur sendiri mengalami penurunan seribu rupiah, menjadi Rp. 19.000/ kilogram. Sedangkan yang masih tinggi harganya yaitu daging ayam dan daging sapi, sekitar Rp. 35 ribu dan Rp. 120 ribu tiap kilogramnya,” terang Eman kepada CT, Senin (27/07).
Sejak H+1, dia melanjutkan, harga sembako belum mengalami penurunan signifikan, tapi masih bisa dikatakan normal. Hal ini disebabkan karena mayoritas pedagang sembako di pasar tersebut masih menjual stok barang yang dikirim sebelum lebaran.
“Ya karena para pemasok barang dari Jakarta dan Cirebonnya banyak yang belum beroperasi. Selain itu, kondisi pasar yang sepi semakin mengurangi permintaan terhadap bahan-bahan pokok yang saya jual,” katanya. (Ipay

Bupati Kuningan Resmikan Pasar Tradisional Tampil Modern

NURYAMAN/PRLM
BUPATI Kuningan Utje Ch Hamid Suganda menandatangani prasasti peresmian Pasar Baru Kuningan di pelataran sekitar gedung pasar tersebut, Kamis (12/3/2015). Pasar tradisional tersebut dibangun oleh pihak pengembang dengan merenovasi total komplek pasar baru yang semula terlihat kumuh menjadi komplek pasar tradisional yang cukup megah tertata menyerupai pasar modern.*
KUNINGAN, (PRLM).- Bupati Kuningan Utje Ch Hamid Suganda, meminta agar kompleks Pasar Baru Kuningan, jangan sampai dibuat semrawut oleh kehadiran lapak para pedagang kaki lima (PKL).
Hal itu diungkapkan Utje dalam acara peresmian dan serah terima aset pasar tersebut dari pihak pengembang kepada Pemkab Kuningan di kompleks pasar tradisional tersebut, Kamis (12/3/2015).
"Tertibkan PKL dari awal. Sebab kalau sudah terlanjur bermunculan banyak PKL lalu tertibkan, sering timbul anggapan dari kalangan PKL dan masyarakat kami atau Pemkab Kuningan tidak memiliki rasa empati kepada pedagang atau masyarakat kecil. Padahal, para PKL itu sendiri mengetahui bahwa lokasi-lokasi yang kami tertibkan dari keberadaan PKL itu, memang tidak diperbolehkan dijadikan lapak PKL," kata Utje.
Selain itu, untuk menjaga ketertiban, keindahan, dan kebersihan di komplek pasar tersebut, Utje meminta kepada para pedagang dan pengelola di pasar itu untuk selalu menjaga kebersihan baik di dalam gedung maupun di lingkungan pasar tersebut.
"Saya pesan nih. Untuk para pedagang, mohon jaga kebersihan. Sediakan tempat sampah di setiap kios dan los, tempatkan dagangan secara teratur jangan sampai menyita jalur-jalur dan mengganggu lalu lintas orang di pasar. Dan, jangan lupa bayar retribusi pasar tepat waktu," kata Utje.
Ujte, juga mewanti-wanti kepada para pengelola tempat parkir kendaaran untuk selalu mengarahkan kendaraan pengunjung dan distributor, diparkirkan atau bongkar muat barang di tempat parkir yang sudah tersedia.
"Jangan dibiarkan pembawa kendaraan asal gampang saja berhenti dan memarkir kendaraanya di tepi jalan raya sekitar pasar ini," kata Utje.
Sementara itu, kompleks Pasar Baru Kuningan yang diresmikan tersebut dibangun di atas lahan seluas lebih kurang 27.000 meter persegi, pada lahan bekas kompleks Pasar Baru sebelumnya.
Tepatnya, di sebelah timur Pasar Kepuh, atau sebelah utara Rymah Sakit Umum Daerah '45 Kuningan, menghadap Jalan Ir Ha Djuanda.
Kompleks Pasar Baru Kuningan dalam area seluas itu awalnya terlihat kumuh. Namun, setelah dibongkar total dan dibangun kembali, kawasan pasar tradisional terbesar di kabupaten tersebut, kini telihat megah dan tertata rapi.
Tempat-tempat jualan para pedagang di pasar itu, kini terhimpun dalam satu bangunan gedung bertingkat, serta dalam deretan rumah toko terpisah di luar gedung tersebut.
Selain itu, di seputar gedung pasar tersebut juga dilengkapi lahan parkir yang cukup luas disertai alur dan blok-blok lahan ruang terbuka hijau. Sejumlah MCK umum, serta bangunan masjid yang cukup luas dan megah.
Di balik itu, los-los para pedagang di lantai dasar dalam gedung tersebut, dibuat permanen tertata rapi, dengan pelataran setiap los dan jalur pejalan kaki berlantaikan keramik putih.
Dilihat sepintas dari luar gedung serta penataan tempat pedagang di dalamnya, tampilan pasar tradisional itu hampir menyerupai pasar moderen.
Pembangunan renovasi pasar tradisional menjadi berpenampilan ala pasat moderen tersebut, menurut Ujte dan Kepala Dinas Peruindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kuningan, di garap oleh pihak pengembang.
Diretur PT ASP Land Development (pihak pengembang tersebut) Cecep Hendi yang juga Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Kuningan, menyebutkan di kompleks pasar tersebut terdapat 886 tempat pedagang.
"Dari 886 tempat pedagang yang kami bangun di kompleks Pasar baru ini, terbagi atas 36 unit ruko, 394 kios, dan 456 los, ditambah sejumlah bangunan fasilitas umum," kata Cecep Hendi.
Ia menyebutkan penjualan ruko, kios, dan los di kompleks pasar tersebut terbagi atas jual beli tunai dan kredit bekerjasama dengan pihak Bank, dengan masa hak guna bangunan selama 25 tahun.
Proses renovasi kompleks pasar tersebut, berlangsung sejak Februari 2013 hingga Desember 2014. Lantas, melalui acara peresmian penggunaannya, Kamis (12/3/2015) gedung berikut berbagai bangunan fasilitas Kompleks Pasar Baru Kuningan garapan pihak pengembang tersebut, sekaligus diserahterimakan secara resmi dari pihak pengembang tersebut kepada Bupati Kuningan menjadi aset Pemkab Kuningan.(Nuryaman/A-89)***